Senin, 11 Oktober 2010

ASKEP CA LAMBUNG

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Di era serba cepat seperti saat ini tidak sulit bagi setiap orang untuk memenuhi keinginannya dalam waktu yang relative singkat. Begitu juga dalam hal memilih makanan, hampir sebagian masyarakat lebih memilih mengkonsumsi makanan cepat saji yang mereka sendiri tidak tahu bahan apa saja yang digunakan untuk mengolah makanan tersebut dibandingkan mengolah bahan makanan sendiri dirumah. Dengan alasan lebih mudah dan efisien. Namun dibalik rasa nikmat yang dirasakan, mereka tidak tahu bahaya apa yang akan terjadi jika mereka mengkonsumsi makanan tersebut dalam jangka panjang. Berbagai penyakit bisa saja mereka derita akibat mengkonsumsi makanan cepat saji yang menjadi pilihan mereka. Salah satu penyakit yang mungkin timbul akibat mengkonsumsi berbagai makanan cepat saji dalam jangka panjang adalah kanker. Sebagian manusia terkadang mengabaikan suatu gejala penyakit yang timbul dalam dirinya, sehingga penyakit tersebut baru diketahui ketika telah mencapai stadium lanjut. Salah satu contoh kanker akibat kebiasaan buruk ini adalah kanker lambung dimana kanker lambung ini merupakan suatu bentuk neoplasma maligna gastrointestinal.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas timbul permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep dasar penyakit Ca Lambung?
2. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan untuk penyakit Ca lambung?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui konsep dasar penyakit Ca lambung.
2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan untuk penyakit Ca lambung.

1.4 METODE
1. Metode kajian pustaka
2. Metode penelusuran



BAB II
PEMBAHASAN

I. KONSEP DASAR PENYAKIT
Kanker Lambung ( Ca Lambung )

2.1 DEFINISI
Kanker lambung atau kanker lambung merupakan bentuk neoplasma maligna gastrointestinal.
Karsinoma lambung merupakan bentuk neoplasma lambung yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,6% dari semua kematian akibat kanker (Cancer Facts and Figures, 1991)

2.2 EPIDEMIOLOGI
Kanker lambung terus berkurang di Amerika Serikat. Namun, ini masih menjadi masalah serius dengan jumlah 14.700 kematian setiap tahunnya, kebanyakan pada individu dengan usia lebih dari 40 tahun dan kadang-kadang pada individu yang lebih muda. Kebanyakan kanker lambung terjadi pada kurvatura kecil atau antrum lambung dan adenokarsinoma. Insiden kanker lambung lebih banyak di Jepang, yang telah menyababkan diadakannya skriningmassa untuk diagnosis awal di negara ini. Diet tampaknya menjadi faktor yang signifikan. Diet tinggi makanan asap dan kurang buah-buahan dan sayuran dapat meningkatkan resiko terhadap kanker lambung. Faktor lain yang berhubungan dengan insiden kanker lambung mencakup inflamasi lambung, anemia pernisiosa, aklorhidria ( tidak adanya asam hidroklorida ), ulkus lambung, bakteri H. pylori, dan keturunan.

2.3 ETIOLOGI
Penyebab dari kanker lambung masih belum diketahui, akan tetapi sejumlah faktor dihubungkan dengan penyakit tsb. Juga dipercaya bahwa faktor eksogen dalam lingkungan seperti bahan kimia karsinogen, virus onkogenik mungkin mengambil bagian penting dalam karsinoma lambung. Karena lambung mempunyai kontak yang lama dengan makanan, bahan-bahan makanan sudah dikaitkan. Ada yang timbul sebagai hubungan dengan konsumsi gram yang meningkat. Ingesti nitrat dan nitrit dalam diet tinggi protein telah memberikan perkembangan dalam teori bahwa senyawa karsinogen seperti nitrosamine dan nitrosamide dapat dibentuk oleh gerak pencernaan.
Penurunan kanker lambung di USA pada decade lalu dipercaya sebagai hasil pendinginn yang meningkat yang mnyebabkan terjadinya bermacam-macam makanan segar termasuk susu, sayuran, buah, juice, daging sapi dan ikan, dengan penurunan konsumsi makanan yang diawetkan, garam, rokok, dan makanan pedas. Jadi dipercaya bawha pendinginan dan vit C (dalam buah segar dan sayuran) dapat menghambat nitrokarsinogen.
Faktor genetik mungkin memainkan peranan dalam perkembangan kanker lambung. Frekuensi lebih besar timbul pada individu dengan gol.darah A. Riwayat keluarga meningkatkan resiko individu tetapi minimal, hanya 4% dari organ dengan karsinoma lambung mempunyai riwayat keluarga.

2.4 FAKTOR PREDISPOSISI
Adapun faktor predisposisi dari kanker lambung ini yaitu :
1. Faktor genetik, karena kanker lambung lebih sering terjadi pada orang bergolongan darah A dari pada golongan darah lainnya.
2. Lingkungan, karena kanker lambung sangat sering terjadi di Jepang, Thailand, Finlandia, Irlandia, dan Kolombia.
3. Kebiasaan makan makanan yang mengandung bahan karsinogenik seperti daging asap, makanan yang diasamkan, dan tinggi nitrat.
4. Perokok dan pengguna alkohol
5. Pekerja dalam industri tertentu
6. Status ekonomi yang rendah.

2.5 PATOFISIOLOGIS
Beberapa faktor dipercaya menjadi pemicu kanker yang mungkin yaitu polip, anemia pernisiosa, prostgastrektomi, gastritis atrofi kronis dan ulkus lambung. Diyakini bahwa ulkus lambung tidak mempengaruhi individu menderita kanker lambung, tetapi kanker lambung mungkin ada bersamaan dengan ulkus lambung dan tidak ditemukan pada pemeriksaan diagnostic awal.
Kanker lambung adalah adenokarsinoma yang muncul paling sering sebagai massa irregular dengan penonjolan ulserasi sentral yang dalam ke lumen dan menyerang lumen dinding lambung. Tumor mungkin menginfiltrasi dan menyebabkan penyempitan lumen yang paling sering di antrum. Infiltrasi dapat melebar keseluruh lambung, menyebabakan kantong tidak dapat meregang dengan hilangnya lipatan normal dan lumen yang sempit, tetapi hal ini tidak lazim. Desi polipoid juga mungkin timbul dan menyebabkan sukar untuk membedakan dari polip benigna pada X-ray.
Kanker lambung mungkin timbul sebagai penyebaran tumor superficial yang hanya melibatkan prmukaan mukosa dan menimbulkan keadaan granuler walupun hal ini jarang. Kira-kira 75% dari karsinom ditemukan pada 1/3 distal lambung, selain itu menginvasi struktur lokal seperti bag.bawah dari esophagus, pancreas, kolon transversum dan peritoneum. Metastase timbul pada paru, pleura, hati, otak dan lambung.


2.6 KLASIFIKASI
Ada 3 bentuk umum karsinoma atau kanker lambung, yaitu :
1. Karsinoma ulseratif merupakan jenis yang paling sering dijumpai dan harus dibedakan dari ulkus peptikum jinak.
2. Karsinoma polipoid, tampak seperti kembang kol yang menonjol ke dalam lumen dan dapat berasal dari polip adenomatosa
3. Karsinoma infiltratif, dapat menembus seluruh ketebalan dinding lambung dan dapat menyebabkan terbentuknya ” lambbung botol kulit ” (linitis plastica ) yan tidak lentur.

2.7 TANDA DAN GEJALA
Pada tahap awal kanker lambung, gejala mungkin tidak ada. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gejala awal, seperti nyeri yang hilang dengan antasida, dapat menyerupai gejala pada pasien ulkus benigna. Gejala penyakit progresif dapat meliputi:
1. Biasanya nonspesifik (tidak khas)
2. Rasa tidak enak/nyaman pada perut (abdominal discomfort)
3. Nausea (perasaan/sensasi sebelum muntah)
4. Vomiting (muntah)
5. Anorexia (kehilangan selera makan)
6. Berat badan menurun (weight loss)
7. Perdarahan (hemorrhage)

2.8 PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dapat membantu diagnosis seperti penurunan berat badan, anemia, teraba massa di epigastrium, jika telah metastasisi ke hati akan terba hati yang irreguler, dan terkadang terba kelenjar limfe klavikula.

2.9 PEMERIKASAAN PENUNJANG
•Endoskopi untuk biopsi dan pencucian sitologis adalah pemeriksaan diagnostik umum.
•Pemeriksaan sinar-X terhadap saluran GI atas dengan barium, karena metastase sering terjadi sebelum tanda peringatan ada
•Pemindai tomografi komputer, pemindai tulang, dan pemindai hepar dilakukan dalam menentukan luasnya metastasis.

2.10 PROGNOSIS
Prognosisnya buruk, kebanyakan pasien telah mengalami metastase pada waktu
didiagnosis.
Faktor-faktor yang memperburuk penyakit ini antara lain:
1. Keterlibatan lesser curvature dari lambung
2. Ukuran tumor yang besar
3. Stadium lanjut (advanced stage)

Catatan:
1. Kanker Lambung Ganas (malignant gastric cancer) kedua yang paling banyak
dijumpai setelah adenocarcinoma.
2. Hanya meliputi 5% dari semua kanker lambung (gastric tumors).
3. Risiko lebih tinggi 5X pada HIV (Human Immunodeficiency Virus)
4. Rasio pria:wanita = 1,7 : 1. Berarti lebih banyak dialami oleh pria.

2.11 TERAPI/ TINDAKAN PENANGANAN
1. Radiasi → efek kurang berhasil
2. Kemoterapi → kurang berhasil
Obat kemoterapi yang sering digunakan mencakup kombinasi 5-fluorourasil (5FU), Adriamycin, dan mitomycin-C.
3. Pembedahan
a. Gasterktomi sub total → Ca Menyebar ke luar lambung
b. Esofago Jeyusutomy (gastrektomi total)

2.12 PENATALAKSANAAN
Tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung kecuali mengangkat tumornya. Bila tumor dapat diangkat ketika masih terlokalisasi di lambung, pasien dapat sembuh. Bila tumor telah menyebar ke area lain yang dapat dieksisi secara bedah, penyembuhan tidak dapat dipengaruhi. Pada kebanyakan pasien ini, paliasi efektif untuk mencegah gejala seperti obstruksi, dapat diperoleh dengan reseksi tumor.
Bila gasterktomi subtotal radikal dilakukan, puntung lambung dianastomosiskan pada jejunum, seperti pada gastrektomi untuk ulkus. Bila gastrektomi total dilakukan kontinuitas gastrointestinal diperbaiki dengan anastomosis diantara ujung esofagus dan jejunum. Bila ada metastasis pada organ vital lian, seperti hepar, pembedahan dilakukan terutama untuk tujuan paliatif dan bukan radikal. Pembedahan paliatif dilakukan untuk menghilangkan gejala obstruksi atau disfagia.
Untuk pasien yang menjalani pembedahan namun tidak menunjukkan perbaikan, pengobatan dengan kemoterapi dapat memberikan kontrol lanjut terhadap penyakit atau paliasi. Radiasi digunakan untuk paliasi pada kanker lambung.

II KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Perawat mendapatkan riwayat diet dari pasien yang memfokuskan pada isu seperti masukan tinggi makanan asap atau diasinkan dan masukan buah dan sayuran yang rendah. Apakah pasien mengalami penurunan BB, jika ya seberapa banyak.
Apakah pasien perokok? Jika ya seberapa banyak sehari dan berapa lam? Apakah pasien mengeluhkan ketidaknyamanan lambung selama atau setelah merokok? Apakah pasien minum alcohol? Jika ya seberapa banyak? Perawat menanyakan pada pasien bila ada riwayat kleuarga ttg kanker. Bila demikian anggota keluarga dekat atau langsung atau kerabat jauh yang terkena? Apakah status perkawinan pasien? Adakah seseorang yang dapat memberikan dukungan emosional? Selama pemeriksaan fisik ini dimungkinkan untuk melakukan palpasi massa. Perawat harus mengobservasi adanya ansites. Organ diperiksa untuk nyeri tekan atau massa. Nyeri biasanya gejala yang lambat.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.Nyeri b/d adanya sel epitel abnormal
2.Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia
3.Berduka b/d diagnosisi Ca
4.Ansietas b/d penyakit dan pengobatan yang diantisipasi
5.Kekurangan volume cairan b/d syok/hemoragi
6.Resiko infeksi b/d insisi bedah.

3. INTERVENSI
Dx1. Nyeri b/d adanya sel epitel abnormal.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan nyeri berkurang , terkontrol.
Kriteria hasil :
-Pasien tidak tampak meringi
-Skala nyeri 0 ( tidak nyeri)
-Pasien tampak lebih rileks
Intervensi :
- Kaji karakteristik nyeri dan ketidaknyamanan; lokasi, kualitas frekuensi, durasi,dsb.
R: memberikan dasar untuk mengkaji perubahan tingkat nyeri dan mengevaluasi intervensi.
- Tenangkan pasien bahwa anda mengetahui bahwa nyeri yang dirasakan adalah nyata dan bahwa anda kan membantu pasien dalam mengurangi nyeri tsb.
R: Rasa takut dapat meningkatkan ansietas dan mengurangi toleransi nyeri.
- Kolaborasi dalam pemberian analgesik untuk meningkatkan peredaran nyeri optimal dalam batas resep dokter.
R: Cenderung lebih efektif ketika diberikan dini pada siklus nyeri.
- Ajarkan pasien strategi baru untuk meredakan nyeri dan ketidaknyamnan dengan distraksi, imajinasi, relaksasi.
R: Meningkatkan strategi pereda nyeri alternative secara tepat.

Dx2. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Kriteria hasil :
- Klien akan mempertahankan masukan nutrisi untuk kebutuhan metabolisme
- Nafsu makan meningkat
- Tidak terjadi penurunan berat badan
Intervensi Keperawatan :
- Ajarkan pasien hal-hal sbb : hindari pandangan, bau, bunyi-bunyi yang tidak menyenangkan didalam lingkungan selama waktu makan.
R: anoreksia dapat distimulasi atau ditingkatkan dengan stimuli noksius.
- Sarankan makan yang disukai dan yang ditoleransi dengan baik oleh pasien, lebih baik lagi makanan dengan kandungan tinggi kalori/protein. Hormati kesukaan makanan berdasarkan etnik.
R: makanan kesukaan yang dioleransi dengan baik dan tinggi kandungan kalori serta proteinnya akan mempertahankan status nutrisi selama periode kebutuhan metabolic yang meningkat.
- Berikan dorongan masukan cairan yang adekuat, tetapi batasi cairan pada waktu makan.
R: tingkat cairan diperlukan untuk menghilangkan produk sampah dan mencegah dehidrasi.
- Meningkatkan kadar cairan bersama makanan dapat mengarah pada keadaan kenyang. Pertimbangkan makanan dingin, jika diinginkan.
R: makanan dingin tinggi kandungan protein sering lebih dapat ditoleransi dengan baik dan tidak berbau dibanding makanan yang panas.
- Kolaboratif pemberian diet cair komersial dengan cara pemberian makan enteral melalui selang, diet makanan elemental/makanan yang diblender melalui selang makan silastik sesuai indikasi.
R: pemberian makanan melalui selang mungkin diperlukan pada pasien yang sangat lemah yang sistem gastrointestinalnya masih berfungsi.

Dx3. Berduka b/d diagnosisi Ca.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan klien dapat melewati proses berduka dengan baik.
Kriteria hasil:
- Klien sanggup menerima keadaannya
- Tidak menutup diri
- Mengkomunikasikan perasaannya dengan baik

Intervensi :
- Dorong pengungkapan ketakutan, kekhawatiran, pertanyaan mengenai penyakit, pengobatan dan implikasinya dimasa mendatang.
R: dasar pengetahuan yang akurat dan meningkat akan mengurangi ansietas dan meluruskan miskonsepsi.
- Berikan dorongan partisipasi aktif dari pasien dan keluarga dalam keputusan perawatan dan pengobatan.
R: partisipasi aktif akan mempertahankan kemandirian dan control pasien.
- Kunjungi keluarga untuk menetapkan dan memelihara hubungan dan kedekatan fisik.
R: meningkatkan rasa saling percaya dan keamanan serta mengurangi perasaan takut.
- Berikan dorongan ventilasi perasan-perasaan negative, termasuk marah yang meluap-meluap, didalam batasan yang dapat diterima.
R: untuk ekspresi emosional tanpa kehilangan harga diri.
- Sisihkan waktu untuk periode menangis dan mengekspresikan kesedihan.
R: perasaan ini diperlukan untuk terjadinya perpisahan dan kerenggangan.

Dx4. Ansietas b/d penyakit dan pengobatan yang diantisipasi.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan ansietas klien menurun.
Kriteria hasil :
- Klien lebih rileks
- Nadi normal
- Tidak terjadi peningkatan respirasi
Intervensi :
- Berikan lingkungan yang rileks dan tidak mengancam.
R: pasien dapat mengekspresikan rasa takut, masalah, dan kemungkinan rasa marah akibat diagnosisi dan prognosisi.
- Berikan dorongan partisipasi aktif dari pasien dan keluarganya dalam keputusan perawatan dan pengobatan.
R: untuk mempertahankan kemandirian dan kontrol pasien.
- Anjurkan pasien mendiskusikan perasaan pribadi dengan orang pendukung misalnya rohaniawan bila diinginkan.
R: menfasilitasi proses berduka dan perawatan spiritual.

Dx.5. Kekurangan volume cairan b/d syok/hemoragi.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan kebutuhan cairan klien terpenuhi.
Kriteria hasil :
- Klien tidak tampak lemah
- Turgor kulit baik
- Tidak terjadi penurunan berat badan secara mendadak
Intervensi :
- Pantau terhadap tanda-tanda hemoragi:
 Observasi aspirasi lambung terhadap bukti adanya darah
 Observasi garis jahitan terhadap adanya perdarahan
 Berikan produk darah sesuai program
R: penurunan vol darah sikulasi dapat menimbulkan syok hipovolemik.
- Kaji klien tehadap tanda-tanda syok
 Evaluasi drainase dari balutan dan penampung drainase
 Evaluasi tekanan darah, nadi dan frekuensi pernapasan
 Berikan produk darah sesuai program
R: menurunnya volume sirkulasi darah dapat menimbulkan syok hipovolemik.

Dx6. Risiko infeksi b/d insisi bedah
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan tidak terjadi gejala infeksi.
Kriteria hasil :
- Tidak timbul kemerahan
- Tidak adanya pembengkakan
- Tidak timbul nyeri
- Tidak ada peningkatan suhu
- Tidak kehilangan fungsi

Intervensi :
- Kaji luka terhadap tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan, bengkak, demam, nyeri tekan, dan kehilangan fungsi.
R: luka harus bersih, karena jika keadaan luka kotor akan lebih rentan terjadi infeksi.
- Kaji abdomen terhadap tanda peritonitis, nyeri tekan, kekakuan, distensi.
R: peritonitis dapat terjadi sekunder akibat bedah lambung.
- Kolaborasi pemberian antibiotic profilaktik sesuai program.
R: antibiotic sering diberikan pada klien setelah bedah abdomen untuk mencegah infeksi.


4. EVALUASI
Dx1.Mencapai peredaan gangguan rasa nyaman.
a. Melaporkan peredaan rasa nyeri (skala nyeri 0)
b. Pasien tidak tampak meringis
c. Pasien tampak lebih rileks

Dx2.Kebutuhan nutrisi tercukupi.
a. Klien akan mempertahankan masukan nutrisi untuk kebutuhan metabolisme
b. Nafsu makan meningkat
c. Tidak terjadi penurunan berat badan

Dx3.Memperlihatkan peningkatan sikap untuk menerima keadaan diri.
a. Klien sanggup menerima keadaannya
b. Tidak menutup diri
c. Mengkomunikasikan perasaannya dengan baik

Dx4.Mencapai penurunan ansietas.
a. Klien terlihat lebih rileks
b. Nadi normal (60-100 x/mnt untuk dewasa)
c. Respirasi normal(12-20 x/mnt)

Dx5.Kebutuhan cairan terpenuhi.
a. Klien tidak tampak lemah
b. Turgor kulit baik
c. Tidak terjadi penurunan berat badan secara mendadak

Dx6.Tidak ada gejala infeksi.
a. Tidak timbul kemerahan
b. Tidak adanya pembengkakan
c. Tidak timbul nyeri
d. Tidak ada peningkatan suhu
e. Tidak kehilangan fungsi





















BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Jadi kanker lambung adalah bentuk neoplasma maligna dalam gastrointestinal.
Penyebab dari kanker lambung masih belum diketahui.
Kanker lambung dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu :
1. Karsinoma ulseratif merupakan jenis yang paling sering dijumpai dan harus dibedakan dari ulkus peptikum jinak.
2. Karsinoma polipoid, tampak seperti kembang kol yang menonjol ke dalam lumen dan dapat berasal dari polip adenomatosa
3. Karsinoma infiltratif, dapat menembus seluruh ketebalan dinding lambung dan dapat menyebabkan terbentuknya ” lambbung botol kulit ” (linitis plastica ) yan tidak lentur.
Tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung kecuali mengangkat tumornya. Bila tumor dapat diangkat ketika masih terlokalisasi di lambung, pasien dapat sembuh. Bila tumor telah menyebar ke area lain yang dapat dieksisi secara bedah, penyembuhan tidak dapat dipengaruhi. Pada kebanyakan pasien ini, paliasi efektif untuk mencegah gejala seperti obstruksi, dapat diperoleh dengan reseksi tumor.





DAFTAR PUSTAKA

Nanda,,Nursing Diagnosis: Definition and Classification 2005-2006,Nanda International,Philadelphia,2005.
Price, Sylvia A, Wilson, Lorraine, M. 2005.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Vol 2 Edisi 6. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C, Bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddath. Jakarta : EGC.
www.wikipedia.com

1 komentar: